Setelah mendapat izin dari perawat, Mbah Mus meminta saya masuk ke ruang ICU untuk menemui Mbah Uti secara bergantian.
Saya melangkah masuk.
Beberapa alat medis terpasang di tubuh Mbah Uti. Selang dan kabel-kabel menghubungkan tubuh beliau dengan berbagai alat yang terus berbunyi pelan, memantau setiap detak dan tarikan napas.
Saya mengucapkan salam. Mbah Uti menjawabnya lirih.
Hanya beberapa kalimat percakapan saya dengan Mbah Uti. Setelah itu, Mbah Uti kembali tenang. Suasana di ruang ICU begitu hening. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar.
Sebelumnya, Mbah Mus berpesan kepada saya, agar selama menunggu Mbah Uti, saya membaca doa-doa. Maka saya pun mulai membaca Al-Ma'tsurat.
Saya duduk di dekat kepala Mbah Uti sambil memegang tangan kanannya. Dalam suasana yang begitu sunyi, bacaan yang saya lantunkan terdengar cukup jelas.
Ayat-ayat Al-Qur'an.
Tasbih.
Tahmid.
Tahlil.
Istighfar.
Dan Sayyidul Istighfar.
Berulang-ulang.
Mbah Uti tetap tenang. Wajahnya terlihat seperti orang yang sedang tertidur.
Hingga kemudian saya sampai pada bagian akhir Al-Ma'tsurat: shalawat kepada Nabi ﷺ.
Saat itu, tiba-tiba saya terkejut.
Tangan Mbah Uti bergerak-gerak.
Lalu, lirih sekali, terdengar suara dari lisannya: “Allahumma shalli ‘alaih…”
Saya terdiam sejenak. Kemudian Mbah Uti kembali anteng dan tenang.
Waktu dan kesempatan yang diberikan saya pergunakan kembali mengulang bacaan Al-Ma'tsurat dari awal.
Ayat-ayat Al-Qur'an kembali memenuhi ruang ICU yang sunyi.
Tasbih.
Tahmid.
Tahlil.
Istighfar.
Semuanya saya baca perlahan sambil tetap menggenggam tangan beliau.
Dan ketika kembali sampai pada bacaan shalawat kepada Nabi ﷺ, sekali lagi saya dibuat tertegun.
Tubuh dan tangan Mbah Uti kembali bergerak-gerak.
Lirih terdengar lisannya mengikuti bacaan shalawat.
Seakan-akan di antara kesunyian, keterbatasan tubuh, dan segala alat yang terpasang, masih ada satu hal yang begitu lekat di dalam dirinya: kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Setelah itu, Mbah Uti kembali tenang.
Hingga waktu yang diberikan perawat selesai, saya pun meninggalkan ruang ICU. Meninggalkan Mbah Uti dalam keadaan anteng dan tenang.
---
Enam tahun telah berlalu. Namun hingga hari ini, setiap kali mendengar lantunan shalawat kepada Nabi ﷺ, ingatan saya sering kembali kepada sebuah ruang ICU yang sunyi itu.
Kepada tangan yang bergerak perlahan. Kepada lisan lirih yang hampir tak terdengar.
Kepada satu kalimat sederhana: “Allahumma shalli ‘alaih…”
Di penghujung kehidupan beliau, saya menyaksikan pelajaran yang tidak disampaikan melalui kata-kata panjang. Bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan ketika sehat, kuat, dan lapang.
Ia adalah sesuatu yang semoga menetap begitu dalam di hati, hingga ketika tubuh mulai lemah, lisan tak lagi banyak bicara, dan kesadaran semakin terbatas, shalawat kepada Nabi tetap menjadi sesuatu yang dikenali dan dirindukan oleh hati.
Di akhir hayat beliau, saya menyaksikan Mbah Uti teguh mengamalkan sabda baginda Rasulullah ﷺ:
“Barangsiapa namaku disebutkan di hadapannya, maka hendaklah ia mengucapkan shalawat kepadaku. Karena sesungguhnya, barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Ibnu As-Sunni)
Satu pelajaran paling dalam dari kehidupan: kita tidak pernah tahu amal apa yang akan menjadi teman kita di penghujung usia.
Karena kehidupan dan amal di dunia tidak hanya tentang: Innamal a‘mālu bin-niyyāt (Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya), tetapi perjalanan hidup juga mengajarkan kepada kita bahwa: Innamal a‘mālu bil-khawātīm (Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya).
Semoga Allah menjaga hati kita agar senantiasa mencintai Rasulullah ﷺ.
Semoga shalawat yang hari ini ringan di lisan, menjadi amal yang menetap di hati.
Dan ketika suatu hari nanti kita sampai pada penghujung perjalanan, ketika tubuh tak lagi sekuat hari ini, ketika lisan tak lagi mampu mengucapkan banyak kata, semoga masih ada nama Muhammad ﷺ yang kita cintai, shalawat yang kita rindukan, dan iman yang tetap Allah jaga hingga napas terakhir.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Ya Allah… jadikanlah akhir hayat kami dengan husnul khatimah.
Jadikan akhir hidup kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami, hati kami mencintai-Mu, lisan kami mengingat-Mu, dan jiwa kami mencintai serta mengikuti kekasih-Mu, Nabi Muhammad ﷺ.
Rabiul Awal 1448 H, bulan kelahiran Nabi ﷺ
---
*) Mbah Mus — Ibunda Hj. Muslikah binti Markijan
*) Mbah Uti — Ayahanda H. Ahmad Suyuthi bin Abdul Karim
Foto : Depan Ruang ICU RS Fastabiq, Pati 10-10-2020
Reviewed by anisvanjava
on
Agustus 28, 2026
Rating:

Tidak ada komentar: